Apakah saya terkena Baby Blues Syndrome ?

Kebahagiaan yang teramat besar dalam suatu keluarga adalah mempunyai keturunan. Begitu pula keluarga saya kini sedang berbahagia karena telah lahir malaikat kecil bernama Alfan Rahman Alfariz pada hari selasa 27 desember 2016 lalu. Rasa syukur yang teramat besar selalu saya panjatkan kepada Tuhan, karena telah memberikan amanah untuk menjadi seorang ibu. Namun ada beberapa hal dan unek-unek yang mengganggu saya selama sebulan ini. Dan setelah merasa cukup kuat akhirnya saya ingin mengungkapkan dan menulisnya disini.

Hari ini, sebulan sudah saya menjadi seorang ibu. Perasaan senang, khawatir, bahagia menjadi satu. Seakan masih tidak percaya bahwa saya sudah berjuang melewati sakitnya proses melahirkan dan telah melahirkan seorang putra. Postingan ini akan bercerita tentang apa yang terjadi dan bagaimana perasaan saya selama sebulan ini. Setelah proses kelahiran selesai, keadaan saya masih baik-baik saja. Sampai akhirnya sepulang dari rumah sakit drama kehidupan ini dimulai. Apakah ini drama? Menurutku tidak, karena saya tidak merasa berpura-pura, tapi ini yang terjadi. Saya juga sedikit bingung kenapa saya jadi aneh seperti ini. Kondisi yang memburuk dan tidak stabil ini berlangsung selama kurang lebih 2 minggu lamanya.

Banyak orang yang bilang, bahwa saya terkena Baby Blues Syndrome. Apa itu ? setelah mencari informasi dari beberapa sumber dan literatur, ternyata Baby Blues Syndrome (BBS) atau sering dikenal sebagai Postpartum Distress Syndrome adalah suatu kondisi gundah gulana dan ketakutan berlebihan  yang dialami oleh seorang ibu setelah melahirkan. Mayoritas ibu melahirkan sering mengalami syndrome ini. Terjadi kurang lebih selama 2 minggu dan terjadi paling parah selama 3-4 hari. Namun jika kondisi tersebut berlarut-larut dan lebih dari 3 minggu, sebaiknya seorang ibu berkonsultasi dengan dokter, karena kemungkinan mengalami Postpartum Depression.

Keanehan pertama adalah saya  menangis saat memandikan anak. Apa yang terjadi? Kenapa saya menangis? Rasanya saya tak tega melihat badan anak saya yang kecil. Pikiran saya kemana- mana. Ketakutan membayangi pikiran saya. Ketakutan terbesar adalah saya merasa tidak mampu mengurus anak, bingung bagaimana kalau dia sakit, dan masih banyak lagi pikiran negatif yang muncul. Rasa takut yang berlebihan ini juga disebabkan karena trauma yang saya alami pada kehamilan pertama saya yang terjadi masalah dan mengakibatkan 2 janin kembar meninggal didalam kandungan. “Maafkan ibu ya anak-anak q jika ibu tidak dapat merawat kalian dengan baik.” Pikiran itu selalu ada dalam diri saya ketika saya melihat bayi mungil ini.

Perasaan aneh yang kedua adalah ingin bersama ibu kandung, dan meminta maaf kepada beliau. Mungkin ini wajar, karena kini saya merasakan apa yang dirasakan ibu saya saat dulu merawat saya dari kecil. Yang tidak wajar adalah kenapa ini selalu muncul disaat hari mulai petang. Sepertinya tekanan mental dan pikiran negatif yang ada dalam pikiran saya seolah menambah rasa bersalah terhadap orang tua.

Ternyata tidak hanya itu saja, yang ketiga adalah saya merasa sendiri. Ini yang paling parah menurutku, karena saya merasa mengurus bayi saya sendirian. Tidak ada teman atau partner yang ada ketika saya bingung. Kenapa tidak ajak suami ??? entahlah, keegoisan saya membuat saya berpikir suami saya belum mampu untuk diajak kerja sama.

Yang terakhir adalah ketakutan tidak dapat memberikan ASI Eksklusif. Niat untuk memberikan ASI sejak lahir sampai dengan usia 2 tahun sangat kuat. Tetapi setelah melahirkan ASI tidak langsung keluar dengan deras. Dengan demikian saya menjadi khawatir apakah saya sanggup untuk memberikan ASI eksklusif kepada anak saya.

Lalu, pasti semua pembaca bertanya, bagaimana saya menghadapi semua ketakutan itu ? dan bagaimana cara saya sembuh dari syndrome ini ?

Setelah mengetahui dan menyadari bahwa syndrome baby blues sedang mampir ditubuh saya, akhirnya saya melakukan beberapa hal untuk membuat emosi saya stabil kembali. Mungkin ini bisa jadi alternatif buat teman-teman yang mengalami hal serupa dengan saya. Karena syndrome baby blues ini sangat berbahaya apabila dibiarkan saja dan berpengaruh terhadap kondisi ibu dan bayinya.

  1. Dzikir dan berdoa

Konon katanya Ibu yang habis melahirkan itu auranya berbeda. Dan mitos yang beredar di masyarakat kebanyakan memang menyebutkan bahwa ibu yang baru melahirkan rawan digoda oleh jin dan sejenisnya. Terlepas dari mitos dan yang lain, saya berpikir bahwa kekuatan doa akan memberikan ketenangan pada jiwa saya, dan dengan berdzikir dan berdoa emosi saya lebih stabil.

  1. Menghindari melamun dan diam sendiri

Ini sangat penting karena biasanya saya akan menangis jika terdiam dan melamun, maka saya menghindari hal tersebut. Ketika petang tiba saya menyibukkan diri dengan mengerjakan sesuatu yaitu mendengarkan musik, membaca buku/blog, berselancar di sosmed, chatting dengan grup WA dan yang lainnya. Yang jelas saya menghindari melamun.

  1. Mencari hiburan

Selain mencari aktivitas, hiburan yang menyenangkan bagi kondisi ibu sangat membantu untuk menyembuhkan syndrome ini. Hiburan yang dilakukan bisa dengan mendengar musik, menonton TV, berbelanja, jalan-jalan ataupun kesalon. Atau segala macam bentuk kegiatan yang bisa membuat ibu menjadi bahagia.

  1. Curhat

Karena sebagian besar masalah akan terasa ringan jika sudah di sharing, menurut saya curht kepada seseorang yang dipercaya juga akan meringankan beban dan pikiran. Untuk permasalah ini saya sering sharing kepada ibu kandung, karena beliau adalah orang kepercayaan saya dan seorang yang bisa memahami keadaan saya saat itu.

Empat hal diatas alhamdulillah dapat mengurangi ketakutan yang saya alami. Jika anda atau keluarga anda ada yang sedang dalam kondisi baby blues syndrome, sebaiknya ciptakan kondisi yang mendukung seorang ibu merasa nyaman dan bahagia. Dan apabila terkena syndrome baby blues ini, maka keluarga adalah yang memiliki peran penting untuk membuat kondisi ibu menjadi stabil kembali.

You may also like

4 Comments

  1. Dulu Kek gitu jg mba waktu Anak pertama, menangis meraung2 tanpa sebab, tiba2 minta sama suami supaya boleh pulkam. Untungnya tdk berlarut2, setelah sakit jahitannya mereda, yg melow2 tidak jelasnya jg hilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *