Pengalaman Naik Angkot di Kota Surabaya. – Transportasi umum saat ini sudah sangat banyak, dari mulai kendaraan angkot konvensional, taxi, maupun kendaraan online semua bersaing untuk mendapatkan penumpang. Tetapi sayangnya terkadang persaingan yang ketat membuat banyak pihak melakukan kecurangan. Tak sedikit yang membandrol tarif semaunya sendiri. Jadi sebagai penumpang, seharusnya kita lebih selektif dan berhati-hati menhadapi kecurangan-kecurangan itu.

Jujur saya adalah orang yang jarang sekali naik angkot atau kendaraan umum. Karena saya lebih suka pergi dengan sepeda motor dan memang ada beberapa kali cerita gak enak saat naik angkot yang menimbulkan trauma. Pernah beberapa kali naik angkot di Surabaya.  Pengalaman tak enak pertama adalah semasa kuliah. Setiap mudik ke kampung halaman saya selalu naik angkot untuk menuju terminal Purabaya. Angkot pertama adalah dari kos menuju terminal bratang. Satu hal yang membuat saya takut naik angkot kala itu karena supir angkotnya ganjen.

Dag dig dug pastinya saat naik angkot malam hari dan saya adalah penumpang terakhir menuju ke terminal. Untung saja saya sudah hafal jalan yang dilalui jadi semisal ada apa-apa atau jalurnya salah saya bisa langsung lari, pikirku kala itu. Bapak supir setengah tua itu mulai bertanya-tanya tentang hal-hal personal kepada saya. Sambil sesekali merayu dengan kedokmemuji saya. Mulai saat itu, saya selalu menghindari naik angkot sendirian ataupun duduk di depan sebelah sopir.

salah satu pelanggaran supir angkot
salah satu pelanggaran supir angkot

Pengalaman buruk kedua adalah ketika saya masih pulang kerja. Saat itu memang sepeda motor saya bocor. Karena malam hari, akhirnya saya memutuskan meninggalkan kendaraan di kantor dan pulang naik angkot. Namun lagi-lagi pengalaman tidak enak menimpa saya. Karena saya kebetulan penumpang terakhir di angkot itu, tiba-tiba bapak sopir mengatakan jika tidak mau mengantar sampai tempat tujuan saya. Pak sopir bilang akan di oper ke angkot lain. Yah mau gimana lagi ya, akhirnya saya sebagai penumpang ya nurut saja. Tetapi pak sopir melakukan kecurangan, beliau meminta upah full untuk setengah perjalanan saya. Apes banget deh malam itu. Pindah ke angkot lain saya harus bayar lagi. Jadi ongkos doble untuk tujuan yang sama.

baca juga : Yuk Kunjungi 3 Destinasi Wisata Ramah Anak di Pangandaran Ini

Sebenarnya naik angkutan umum itu bagus untuk mengurangi kemacetan, namun jika banyak oknum yang membuat angkutan umum menjadi tidak nyaman pasti banyak penumpang yang menjadi enggan untuk naik angkot. Seperti halnya saat ini banyak konsumen yang lebih tertarik memilih kendaraan online karena dirasa lebih nyaman dan tarifnya lebih sesuai dengan tujuan mereka.

Yang unik dan menggelitik itu terkadang banyak supir angkot yang mengendarai secara ugal-ugalan dan terkesan tidak memberikan kenyamanan untuk penumpangnya. Saya pun sering melihat angkot yang berhenti mendadak serta menurunkan penumpang di lampu merah. Padahal hal ini sangat berbahaya untuk penumpangnya.

Jadi menurut saya, masukan untuk bapak sopir angkot, kenyamanan penumbang adalah yang utama dan harus selalu dijaga supaya penumpang tidak kabur.

Mungkin temen-temen yang lain punya cerita masing-masing saat naik angkot ? jangan lupa shared dikomentar ya, cerita yang seru dan gokil juga tidak apa-apa supaya saya berani naik angkot lagi.

Tulisan di atas merupakan respon trigger Angkutan Kota dan Kejujuran #KEBloggingCollab dari kelompok Najwa Shihab yang ditulis oleh Idah Ceris.