Melihat Potret Anak Indonesia Melalui Temu Anak Peduli

Melihat Potret Anak Indonesia Melalui Temu Anak Peduli

Mata berbinar seorang bocah yang duduk di kursi roda itu, seakan mengisyaratkan sebuah makna besar. Mata yang terus mengamati saya saat kamera yang saya pegang ini digunakan untuk memotret sebagian moment di acara Temu Aanak Peduli 22 juli 2018 di salah satu hotel Surabaya. Tak lama kemudian tangannya meraih badan saya seakan ingin bilang “mba aku juga mau difoto”. Saya tak sanggup berkomunikasi dengan dia secara lancar karena anak Down Syndrom ini tidak dapat bicara, tetapi saya tau maksud hatinya dari isyarat tangan dan mimik wajahnya.

Wajah anak-anak Disable yang ikut acara Temu anak Peduli

Sayangnya saya tidak sempat menanyakan siapa namanya, yang saya ingat anak itu berasal dari luar Jawa yang beruntung sehingga berkesempatan mengikuti serangkaian acara menjelang peringatan Hari Anak Indonesia 20 – 22 Juli 2018. Setelah meninggalkan anak tadi, saya dikejutkan dengan tulisan yang tak begitu rapi namun masih jelas dibaca itu. Banyak tulisan yang dipampang di dinding sekitaracara Temu Anak Peduli.

Ini Aspirasi mereka

Ini tulisan dar kelompok Ceria yang membuat emosi saya terguncak dan berpikir anak-anak seperti mereka sudah berpikir seberat ini. Ini salah satu aspirasi mereka bisa juga ada sebagian mereka yang merasakan sehingga mereka berani menulisnya.

Aspirasi tentang Hak Anak

Poin yang saya dapatkan adalah tentang Hak Anak yang harus dipenuhi. Hak untuk bermain dan belajar, Hak mendapat Perlindungan, serta Hak berpendapat.

Menurut saya 3 point dasar hak anak itu memanglah harus diwujudkan karena di sebagian wilayah Indonesia masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan yang layak, belum mendapatkan kesempatan untuk bermain dan belajar secara utuh karena kondisi keluarga yang menuntut mereka juga ikut mencari nafkah. Bahkan banyak anak yang belum mendapatkan perlindungan baik secara mental dan perlindungan fisik seperti akses kesehatan yang layak.

Maraknya kasus kekerasan pada anak, pelecehan seksual pengaruh narkoba bahkan bullying yang jumlahnya makin meningkat ini seakan mencadi potret permasalahan kehidupan anak Indonesia yang harus diselesaikan bersama oleh semua elemen masyarakat.

Sto bullying ini salah satu aspirasi mereka

baca juga : Kementrian PPPA Selenggarakan Penganugerahan Kabupaten/Kota Layak Anak 2018 di Suraba

Acara yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini membuat saya merasa bahwa sebenarnya anak-anak ini mampu berkarya, mampu mengeluarkan aspirasi mereka. Terbukti dari banyaknya karya mereka yang terpampang disini dan semangat mereka yang tak habis-habisnya. Ini lah generasi kita, anak-anak kita yang akan memimpin Indonesia di 30 tahun mendatang.

Saya merasa lebih terkagum-kagum lagi saat mengetahui bahwa acara pertunjukan yang hebat ini adalah dari mereka, untuk mereka dan semua panitia acara seperti MC, pengisi acara, sampai bagian dokumentasi pun ditangani oleh anak-anak ini. Mereka mampu loh, meski mereka berasal dari kelompok marginal yang tersisihkan. Di Temu Anak Peduli “Pusparagam Anak Indonesia”mereka menunjukkan bahwa mereka bisa seperti anak-anak lain.

Temu Anak Peduli, ini saat presentasi tiap kelompok

Temu Anak Peduli merupakan acara dari Program peduli bersama dengan The Asia Foundation Indonesia yang baru digelar tahun ini. Ada 165 anak berusia 9 hingga 18 tahun dari 31 kabupaten/kota perwakilan komunitas yang terpinggirkan dari berbagai wilayah di Indonesia dikumpulkan selama 3 hari untuk mendapatkan workshop, belajar; bermain; berkaya serta bertukar pikiran mengenai berbagai tema kebangsaan seperti gotong royong; literasi; kekerasan dan perundungan; toleransi; kepemimpinan; dan kewirausahaan.

Meskipun mereka ada yang berasal dari beberapa kelompok marginal  yaitu Remaja dan anak-anak rentan, Masyarakat adat, dan lokal terpencil dan primitif yang tergantung pada sumber daya alam, anak Korban diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan berbasis agama, para penyandang disabilitas, para Korban pelanggaran hak asasi manusia, dan Transpuan tetapi mereka disatukan tanpa adanya perbedaan.

Di acara ini mereka mendapatkan hak yang sama, disatukan dalam keberagama, sehingga terbentuknya inklusi sosial untuk mereka yang merasa dimarjinalkan. Mereka disetarakan untuk didorong bermimpi dan berkarya bersama.

Ini Mimpi mereka

Bagian dari acara ini yang paling saya sukai adalah saat beberapa anak mempresentasikan hasil karya dari kelompok mereka. Dari kelompok Wirausaha yang paling saya ingat adalah ada yang bermimpi menjadi seorang perancang busana dan Reyhan asal Bulukumba Sulawesi Selatan mengungkapkan mimpinya mempunyai perusahaan mobil sendiri.Juga ada remaja tunarungu yang mengungkapkan mimpinya ingin menjadi bupati Situbondo.

Mimpi untuk menjadi bupati Situbondo

Jangan ciderai mimpi mereka, selayaknya kita wajib mendukung dan berupya menciptakan support system untuk mereka.

“Program peduli sebagai salah satu contoh support system yang melihat ditenga keterbatasan dan kondisi, mereka juga punya mimpi yang akan berpengaruh terhadap pembangunan Indonesia.” ungkap bu Erna Irnawati, Program Officer Program Peduli untuk Pilar Remaja dan Anak-anak .

Ini Karya Mereka

Banyak karya mereka yang membuat saya trenyuh. Diantaranya ada gambar karya dari seorang anak yang mengungkapkan keinginannya untuk menumbuhkan minat baca anak Indonesai. Ini luar biasa sekali karena di jaman yang begini millenia masih ada anak yang berpikir out of the box mau mengangkat minat baca terhadap buku.

Mimpi untuk menumbuhkan minat baca
mimpi Indonesia bebas plastik
Taman Impian karya kelompok Gotong royong

Karya lain yang memukau mata saya adalah hasil dari kelompok gotong royong yaitu taman impian. Taman impian ini merupakan karya bersama yang dibuat secara gotong royong semua anggota kelompok. Makna yang ingin diajarkan kepada anak-anak dalam kelompok gotong royong ini adalah jika bergotong royong makan akan menghasilkan karya yang besar. Dan meskipun terlihat rumit tetapi terselesaiakan dengan baik.

Drama dengan tema bulliying

Selain menggambar, dan membuat taman Impian, ternyata anak-anak ini juga dapat bermain drama. Mungkin sebagian dari mereka ingin jadi artis nantinya. Sandiwara yang juga merupakan serangkaian flash mob yang akan ditampilkan di depan presiden ini mengangkat tema tentang bulliying. Tema ini sangat dekat dengan kehidupan sekitar anak ya, yang sering di bully teman di sekolah. Dari sandiwara singkat yang membuat saya terbahak-bahak karena akting mereka, sebenarnya mengandung makna besar yaitu jangan membully jika tak mau jadi korban bullying.

baca juga : Bunda, Lakukan 4 hal ini agar anak terhindar dari Bullying

Ini Semangat Mereka

Sekitar 3 jam mengikuti acara ini saya tidak menemukan anak yang capek, lelah ataupun murung. Luar biasa memang energi anak-anak ini. Sampai-sampai saya merasakan energi semangatnya loh. Tak sadar saya juga ikut bernyanyi, menari mengikuti semangat mereka.

Semangat membara para anak-anak Indonesia

Semangat dan kegembiraanpun terpancar dari salah satu peserta, Elmi Septiana, 16 tahun dari Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, mengatakan, “Saya senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman dari luar daerah dan saling berbagi. Ini pertama kalinya saya ikut kegiatan Hari Anak Nasional.” Elmi juga akan menjadi salah satu perwakilan anak yang akan berdialog dengan Presiden Jokowi

Saya merasa beruntung menjadi bagian dari acara ini. Sembari mengikuti serangkaian acara hingga selesai tak henti-hentinya saya berdoa untuk keberkahan semua anak-anak ini. Semoga Tuhan menjaga karya, mimpi dan semangat mereka. Agar Indonesia punya generasi Genius tanpa memandang perbedaan dan keterbatasan.

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.