Belajar membuat Faksi : Yakin hanya Sahabat

Jadi ceritanya minggu kemarin sedang ikut pelatihan menulis via Whatsapp. Nah salah satu materinya adalah mengenal jenis-jenis tulisan. Alhamdulillah dapet ilmu baru dan seperti diingatkan kembali ke pelajaran mengarang di bahasa Indonesia saat SMA.

Aku shared sedikit ya disini, jadi pas pelatihan itu ada tantangannya yaitu mencoba menulis FAKSI.

Nah, apa itu FAKSI ?

Faksi adalah tulisan yang bersumber dari fakta atau kejadian nyata dan disajikan dalam bentuk fiksi bisa berupa cerpen, cerbung, novel. Contoh tulisan faksi adalah kisah inspiratif yang ditandai dengan kalimat Based On True Story.  Terus juga ternyata curhatan itu jika dibumbu-bumbui bisa jadi faksi, jadi faksi itu gambungan fiksi dan non fiksi.

Nah berikut ini salah satu contoh tulisan faksi mengenai kenangan masa lalu yang sudah ditambah-tambahin.

Yakin hanya Sahabat ?

Tiba-tiba ponsel bergetar tanda ada notifikasi pesan masuk. Seperti biasa, ponsel selalu pakai mode getar karena aku tidak suka bising dengan semua bunyi notifikasi dari banyak aplikasi sosmed maupun Whatsapp.

Awalnya tak ingin cepat-cepat membuka pesan karena kupikir pasti sama saja dengan pesan lain dan tidak ada yang spesial. Tetapi mataku melirik ke atas bar notifikasi dan ternyata itu pesan singkat dari seorang teman kuliah.  

Dilan (nama samaran), teman kuliah pertama yang aku kenal. Entah kenapa dia yang pertama ku kenal. Mungkin kebetulan mungkin sudah takdir. Laki-laki berparas ganteng dengan tinggi badan kira-kira 170cm ini memang sangat menghargai perempuan. Makanya aku betah berteman dengannya. Dia sedikit lucu dan kadang suka mbanyol, tetapi juga masih cool jika mengenal orang baru.

“Hari ini ke kampus jam berapa ? ku tunggu dikantin jam 5 sore”. Pesan dari Dilan yang dikirimkan ke aku pagi ini.

Karena hari ini kuliah padat dengan praktikum aku cuma membaca pesan itu dan pikirku yaudah nanti sore mampir ke kantin, tanpa membalas pesannya.

Sore harinya, setelah melewati hari yang padat dengan praktikum di Lab kampus, aku melangkahkan kaki ke kantin. Tiba-tiba Dilan sudah ada di belakangku sambil menepuk pundakku dan menyapa “hey, anak ingusan”. Bukan tanpa alasan dia memanggilku seperti itu ya, karena saat itu aku sedang pilek dan flu berat.

Dilan mengajakku untuk duduk di salah satu pojok kantin. “sini aja yuk, kita mojok”. Perkataan Dilan ya emang seperti itu, terbiasa lugas dan sedikit slengekan kalo kataku. Aku mulai bercerita tentang kuliah dan praktikum, namun sepertinya Dilan punya topik pembahasan yang lebih penting untuk dibicarakan.

“aku mau tanya sesuatu, jawab jujur ya ” sambil menatap tajam kepadaku

Kamu menganggapku selama ini seperti apa ? sahabat atau pacar ?

Sebelumnya hubungan kami memang dekat, sering main dan emang 2 minggu ini aku sering minta tolong dia untuk mengantarku kemanapun yang aku mau. Ku pikir ya karena satu-satunya temen yang aku kenal dan dia kebetulan ada kendaraan.

Tiba-tiba ditanya seperti itu rasanya mulutku kaku dan berat gak bisa dibuka. Seperti ada perekat yang membuat mulut tak bisa gerak. Busyet, pertanyaan macam apa ini, batinku bergejolak. Antara bingung mau jawab apa dan seakan otakku sudah tak bisa berpikir apa yang harus aku katakan.

Tak terbayang sebelumnya akan ada pertanyaan seperti ini. Dan batinku kembali bertanya-tanya apakah dia menyukaiku? Atau dia hanya mencari suatu kepastian tentang hubungan kami ini. Seakan tak mau terjerat dengan jawaban-jawaban yang ngawur akhirnya saya mengatakan, “ya, kita teman, teman dekat yang lebih ke sahabat’

Aku tak mau kehilangan orang sebaik dirimu. Pikirku jika kita menjadi sahabat tak akan ada masalah dan tak pernah putus hubungan. Aku tak mau menjadikannya seorang pacar karena nanti aku takut kehilangan saat putus.

Kemudian Dilan mengangguk mendengar penjelasanku. Entah apa yang dipikirkannya aku juga tak tau. Terlihat dia juga mengiyakan pernyataanku saat aku bilang ingin bersahabat saja dengannya.

Bahkan aku tak sempat bertanya kembali kenapa dia tiba-tiba menanyakan ini dan maksudnya apa, kemudian sebenarnya apa yang dia rasakan.

Sejak kejadian itu, hubungan kami berdua justru semakin intens. Ada saja yang membuat kami sering bersama. Bahkan Dilan juga sering mengungkapkan jika dia sedang suka dengan seseorang dan kriteria cewek yang dia inginkan. Lalu aku, seperti biasa menjadi pendengar yang baik sambil sedikit membuat celoteh lucu untuknya semoga gadis impian dengan badan tinggi langsing itu segera datang.

Perjalanan hubungan kami selalu baik-baik saja. Namun entah mengapa setiap kali aku cerita tentang laki-laki lain, dia seolah tak merespon dan selalu cuek. Sampai akhirnya aku dekat dengan seorang laki-laki teman kuliah dari jurusan lain. Saat itu juga Dilan menghilang entah kemana. Dia yang biasanya setiap hari memberikan kabar, yang setiap hari menyapa tiba-tiba menghilang. Susah sekali dihubungi, dan kita tak lagi sering bertemu.

Namun ketika terdengar bahwa aku putus hubungan dengan pacarku, orang yang selalu hadir petama mengobati rasa sakit hatiku hanya Dilan. Dia muncul kembali, dengan dirinya yang sama dengan semua perhatiannya.

Kini sudah 10 tahun berlalu, sejak wisuda, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengannya. Sampai hari ini aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Dia menghilang entah kemana. Sekalipun tak pernah bertemu dengannya. Semua jalur komunikasi baik sosial media sampai kontak nomer telepon sudah tidak bisa lagi dihubungi.

Saat ini yang sangat ingin aku tanyakan kembali padanya adalah, kenapa dengan pertanyaannya dahulu, dan sebenarnya kau itu menganggapku apa ?

Rasanya terlambat sekali menanyakan ini padanya, tetapi aku memang baru menyadari bahwa dulu dia sangat baik dan selalu ada untukku. Sempat terbesit di pikiran, yakin yang kita inginkan hanya sebagai sahabat?

Mungkin jika jawabanku dahulu menjadi pacar, mungkin akhirnya tak akan begini. Entahlah memang jodoh sudah diatur oleh sang maha pengatur.

Kesedihan ku hanya satu yaitu tak sempat mengetahui apa yang ada dihatinya. Tak sempat menanyakan sebenarnya bagaimana perasaannya terhadapku. Kurasa sekarang sudah sangat terlambat untuk menanyakan ini.

Selalu aku doakan agar dirimu mendapatkan gadis impian terbaikmu yang sering kau ungkapkan itu. Gadis tinggi langsing, tak perlu putih yang penting pinter, tak perlu kaya yang penting sabar, tak perlu cantik yang penting setia. Yang selalu kau idam-idamkan.

Dulu, gadis itu bisa jadi aku, tetapi sekarang ini gadis itu pasti bukan aku.

Kisah masa lalu yang sepertinya menggantung ini, ingin sekali aku gantungkan kelangit dan aku ingin berterima kasih telah dipertemukan dengan orang sebaik dirimu. Maafkan semua kesalahanku yang mungkin tidak jujur kepadamu bahwa sebenarnya aku mencintaimu lebih dari sekedar sahabat.

Tapi aku tak pernah menyesal mempunyai sahabat sebaik dirimu, mungkin jodoh kita hanya sebentar, kiranya jika suatu saat kita bertemu kembali semoga kita dipertemukan dalam keadaan sudah ikhlas dengan masa lalu kita. Ikhlas dengan takdir tuhan bahwa kenyataanya kita tak lagi bersama.

Ingin ku suarakan lewat angin, betapa aku merindukan sosok seperti dirimu, tetapi biarkan angin itu menghembus saja tanpa ada yang mendengarnya. Ingin ku sampaikan lewat air, tetapi biarkan percikan air itu mengalir saja tanpa merusak sungai yang sudah indah.

Semoga kisah ini menjadi contoh dan pembelajaran semua orang untuk selalu jujur terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain baik dari tingkah laku maupun dari perasaan.

Nah, itu salah satu contoh faksi karya saya tentang kenangan masa lalu.

Bagaimana menurut kalian ? boleh banget loh dikomentari hehe.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.