Ibu sebagai Manager Keluarga yang Handal

Masih ingat dengan mom war antara ibu pekerja dan ibu rumah tangga ? sepertinya itu adalah war yang tak akan pernah usai. Satu sisi si ibu bekerja menganggap dirinya yang paling strong karena bisa melakukan banyak aktivitas dan di sisi lain ibu rumah tangga ternyata juga tak mau kalah, karena menurut mereka yang dirumah jauh lebih capek. Kalo baca-baca lagi perang statusnya saya jadi senyum-senyum sendiri. Terus mikir, apapun profesi dan kesibukan mereka di dalam dan di luar rumah, mereka adalah sama yaitu seorang ibu.

Nah, kebetulan saya adalah seorang ibu bekerja. Tapi saya juga bukan golongan ibu bekerja yang sok-sokan dianggap strong woman hehe. Saya mah apa atuh, selalu merasa kurang jadi saya masih terus belajar menjadi ibu yang profesional itu seperti apa.

Saya masih berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa mempunyai banyak waktu untuk anak saya. Nah ini sulit… pasti sulit, kalo mudah ya anak TK juga bisa hehe. tapi saya berusaha, semoga segera mendapatkan pekerjaan yang banyak waktu dirumah, amin.

Semenjak mengikuti Instituted Ibu Profesional (sekolahya ibu-ibu) saya semakin dibukakan pikiran tentang bagaimana  peran seorang ibu yang sesungguhnya. Jadi seorang ibu adalah manager untuk keluarganya. Hah manager ? sepenting itu kah sampek harus diibaratkan menjadi seorang manager. Yes, peran ibu emang penting, dia yang mengatur layaknya manager kehidupan untuk keluarganya.

Nah, dari situ saya mikir lagi, sudah jadi manager yang handal belum ya ? atau masih suka asal-asalan saat mengerjakan aktivitas baik dirumah maupun di tempat kerja. Apa sudah benar-benar melakukan semua aktivitas dengan ikhlas memenuhi panggilan hati ?  berkali-kali saya merenung dan akhirnya saya memutuskan untuk berubah menjadi ibu manager keluarga yang handal.

ibu sebagai manager yang handal

Untuk menjadi seorang manager yang handal tentunya saya harus tau tugas terpenting saya itu seperti apa. Sehingga dapat mengatur diri sendiri dan kedudukannya untuk keluarga serta dapat menentukan skala prioritas untuk keluarga. Ini adalah 3 tugas terpenting saya :

Saya sebagai seorang pendidik

Peran terpenting seorang ibu adalah sebagai pendidik dan sebagai madrasah untuk anak-anaknya. Mindset ini yang sudah merubah pola pikir saya bahwa sesukses apapun berkarir, yang paling terlihat sukses adalah karir ibu sebagai pendidik anak-anaknya.

Tak perduli Ibu rumah tangga ataupun ibu yang bekerja di kantor, jika mereka sukses mendidik anaknya dengan sebaik mungkin itu adalah sebenar-benarnya seorang ibu. Ah jadi ingat ibu dan perjuangannya mendidik saya, sehingga saya jadi seorang yang tangguh seperti ini.

Setelah tau tugas saya adalah mendidik anak, lalu aktivitas penting ini akan saya lakukan setiap hari saat bersama dengan anak. Saya dituntut untuk selalu dapat menyampaikan pesan-pesan kehidupan saat bermain dengan anak. Hal-hal simple yang harus ditanamkan sejak diri seperti bagaimana berterima kasih, bagaimana menghargai orang lain tentunya akan membentuk karakter pribadi si kecil.

Karena saya masih bekerja diranah publik, jadi saya memiliki waktu bounding dengan anak sekitar 6-7 jam aktif. Waktu yang sempit itu harus dimaksimalkan  supaya bounding antara saya dan si kecil menjadi maksimal. Ini tantangannya ya karena jika waktu yang sempit dimanfaatkan semaksimal mungkin maka hasilnya juga akan maksimal.

Saya sebagai Ibu dan Istri

Kedudukan saya adalah sebagai ibu dan istri, jadi saya harus bisa membagi waktu untuk anak dan suami. Kemudian saya juga harus mengatur apa yang ada dirumah saya. Saya yang memastikan suami dan anak makan dengan gizi yang cukup. Memakai baju yang pantas dan memastikan mereka tidur ditempat yang nyaman dan bersih. Nah pastina tugas domestik juga harus saya selesaikan dengan baik dong, supaya semua yang di atas tadi terwujud.

Jadi bagaimana ? sudah tau betapa sibuknya seorang ibu ? eh tapi jangan sampai kesibukan itu membuat kita lengah dan menghilangkan makna atas peran seorang ibu ya. Jadi meskipun sibuk maka dasari kesibukan itu dengan keikhlasan untuk beribadah dan ikhlas melakukannya sehingga akan mendapatkan ridho dari suami dan tentunya ridho dari Allah.

ilustrasi bahwa ibu harus bisa melakukan banyak hal

Develope diri sendiri

Nah, saya juga masih punya tugas penting terhadap diri saya pribadi yaitu untuk selalu mendevelope diri saya atau upgrade ilmu. Bagaimanapun ibu dituntut bisa mengatur ini dan itu, menjalankan ini dan itu, jadi ibu juga harus mau belajar ini dan itu. Contoh simplenya, jika saya mau mendidik anak dengan benar otomatis saya harus tau ilmunya dong, jika saya ingin bisa masak enak, ya harus tau ilmunya juga kan ya.

Makanya saya memberikan tempat tersendiri untuk aktivitas penting sya yaitu belajar, belajar dan terus belajar untuk diri sendiri dan untuk orang lain.

Setelah mengetahui aktivitas terpenting saya, ternyata dalam sehari kadang ada saja kendala dan gangguan baik dari diri sendiri maupun dari luar supaya saya tidak fokus dan melenceng dari target. Waduh susah kan kalo harus melenceng dari target, ini biasanya sabuk harus dieratkan lagi ikatannya, jangan kasih kendooorrr pokoknya.

Kadang saya masih lengah dan malah terbuai dengan aktivitas yang tidak penting. Ini adalah aktivitas tidak penting saya yang harus dibuang jauh-jauh supaya tidak mengaburkan target saya.

Stop berlama-lama dengan HP dan sosmed

Godaan Hp memang sangat luar biasa, apalgi godaan untuk chating dengan beberapa grup WA. Beneran itu bisa makan banyak waktu banget dan apa yang dihasilkan terkadang tidak sebanding dengan waktu yang dihabiskan. Mulai saat ini saya harus lebih selektif untuk ngobrol di grup WA dan mempunyai prioritas khusus terhadap HP. Untuk itu saya harus bisa memanagement  gadget saya sendiri.

Delegasikan pekerjaan yang memakan banyak waktu

Ada beberpaa pekerjaan yang memakan banyak waktu seperti setrika baju. Memang saya tidak pernah melakukan ini karena saya mendelegasikan tugas ini, jujur saya sendiri juga tidak betah berlama-lama di depan setrikaan. Lalu saya juga sering minta bantuan suami untuk membersihkan lantai karena saya pikir itu pekerjaan berat yang memakan banyak waktu juga. Secara ya gimana ya hayati lelah kalo harus nyapu dan ngepel lantai rumah yang besarnya 7x23m bisa-bisa tulang belakang bengkok nih heheh.

Stop bersantai terlalu lama dan menumpuk pekerjaan.

Yang paling harus dihindari ya ini, menumpuk pekerjaan dan bersantai yang terlalu lama. Sering nih kadang saya lakukan ah, nanti aja dulu nyuci banjunya tunggu banyak, pasti makin hari-makin banyak dong dan makin capek saat mencucinya. Lalu pas nulis juga, ah nanti aja nulisnya nunggu deadline, nah pas hari H deadline ternyata banyak tugas menulis yang belum diselesaikan. Hal seperti ini yang harus dihindari dan dimusnahkan untuk bisa belajar mendisiplinkan diri

Dari uraian diatas saya dapat menyimpulkan bahwa saya dapat melakukan kegiatan domestik saya saat subuh-jam 6 kemudian saya berlanjut untuk peran saya yang lain dan mendevelope diri saya selama jam 6 pagi sampai dengan jam 9 malam, dengan aktivitas bersama anak dan untuk yang lainnya.

Bagaimana ibu-ibu ? sudah siap untuk menjadi manager yang handal dirumah masing-masing ?

Disclaimer postingan ini merupakan hasil pemikiran pribadi sebagai proses menyelesaikan tugas Nice Home Work 5 Kelas Matrikulasi Program belajar di INstitut Ibu Profesional

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.